BNI Syariah Dukung UMKM Berbasis Syariah

Jakarta -BNI Syariah Dukung UMKM Berbasis Syariah. Bertempat di Bale Panjang Taman Mini Indonesia Indah, untuk pertama kalinya berlangsung kopi darat (Kopdar) akbar Group Equator Entreprenuer (GEE) yang bertajuk Silaturahmi Akbar GEE Indonesia I (SAGI). Dalam kopdar tersebut terdapat talkshow, kuliah umum, dan workshop bertajuk “UMKM Repositioning : Unggul Pasar Nasional dan Tembus Pasar Internasional.” Hadir sebagai salah satu pembicara Imam Teguh Saptono selaku Direktur Utama BNI Syariah yang dalam kesempatan tersebut berbagi informasi terkait Riba Amnesty. Selain itu BNI Syariah menggandeng Jaya Setiabudi CEO Yukbisnis untuk berbagi pengalaman seputar UMKM.

GEE sendiri adalah pusat berkumpulnya pewirausaha berbasis syariah di nusantara. Member GEE Indonesia adalah pengusaha yang hampir semuanya UMKM ataupun sudah naik level dan yang akan merintis menjadi wirausaha. Sedangkan misi GEE adalah menumbuhkan pewirausaha muslim non riba dan membantu sinergi usaha para membernya sehingga produk/usahanya agar dapat berkembang, serta menjadikan produk/usaha mereka menjadi jamak digunakan oleh masyarakat nasional dan tidak menutup kemungkinan masuk ke pasar internasional.


Dalam hal ini BNI Syariah menyambut dan mendukung itikad baik dari para member GEE Indonesia yang berkomitmen menggunakan sistem keuangan berbasis syariah. Sejalan dengan core bisnis BNI Syariah yang menyediakan layanan perbankan sesuai prinsip syariah. BNI Syariah mendukung UMKM tidak lepas dari rencana pemerintah untuk meningkatkan UMKM di Indonesia yang terbukti dalam lima tahun terakhir kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto mampu meningkat sebesar 60,34%.

”Alhamdulillah, BNI Syariah berkomitmen mendukung kemajuan UMKM di Indonesia salah satunya dengan mendukung komunitas GEE ini. Kami meyakini potensi UMKM di Indonesia saat ini masih cukup besar dan masih banyak yang belum mendapat sentuhan dari lembaga perbankan khususnya perbankan syariah. Sejalan dengan Hasanah Lifestyle Banking yang diusung, BNI Syariah berusaha memfasilitasi para pegiat UMKM ini untuk berhijrah menggunakan sistem keuangan yang ber-Hasanah dengan menyediakan produk dana dan pembiayaan berbasis syariah. BNI Syariah juga berusaha menjadi partner bisnis para UMKM ini dalam bentuk pendampingan dan coaching clinic untuk pembukuan keuangan dan pengelolaan usaha sehingga para pegiat UMKM ini dapat bank-able agar dapat lebih maju dan meningkatkan perekonomian Indonesia” Ujar Imam T. Saptono.

Kinerja BNI Syariah

Alhamdulillah, BNI Syariah melewati triwulan ketiga di tahun 2016 dengan cukup baik. Walaupun tahun ini ekonomi masih belum menunjukan perbaikan yang cukup berarti karena masih dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi global yang melambat. Laba bersih triwulan ketiga tahun 2016 tercapai sebesar Rp 215,23 Miliar atau naik sebesar 37,42% dibanding tahun sebelumnya September 2015 sebesar Rp 156,62 Miliar. Pertumbuhan laba tersebut, pada satu sisi, disokong oleh ekspansi pembiayaan yang terjaga kualitasnya. Di sisi lain, hal ini dikontribusikan oleh komposisi rasio dana murah serta efisiensi operasional yang juga terus membaik.

Dengan tetap menjunjung semangat berHasanah di tahun 2016, BNI Syariah bersyukur kinerja triwulan ketiga pada sisi neraca juga berjalan cukup optimal. Sebagaimana terlihat pada pertumbuhan aset Year on Year (YoY) naik sebesar 17,88% dari Rp 22,75 Triliun pada September tahun lalu menjadi sebesar Rp 26,82 Triliun. Pertumbuhan aset ini didorong oleh pertumbuhan pada pembiayaan sebesar 15,09% dan dana sebesar 20,26% terhadap posisi tahun sebelumnya pada periode yang sama.

Pembiayaan pada September 2015 sebesar Rp 16,97 Triliun berhasil tumbuh menjadi Rp 19,53 Triliun pada September tahun ini. Pertumbuhan ini dilakukan dengan penjagaan terhadap kualitas pembiayaan sehingga NPF triwulan ketiga 2016 ini terjaga di level 3,03%, angka ini di bawah rata-rata industri perbankan syariah. Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga yang pada September tahun lalu sebesar Rp 18,93 Triliun meningkat menjadi Rp 22,77 Triliun pada September 2016, dengan rasio dana murah (CASA) sebesar 47,42% naik dari 43,78% di tahun sebelumnya.

Dari total pembiayaan sebesar Rp 19,53 Triliun tersebut, sebagian besar merupakan pembiayaan konsumer yaitu 53,46%, disusul pembiayaan ritel produktif/SME sebesar 22,55%, pembiayaan komersial sebesar 16,20%, pembiayaan mikro sebesar 5,85%, dan kartu pembiayaan Hasanah Card 1,93%. Untuk pembiayaan konsumer, maka sebagian besar portofolio merupakan BNI Griya iB Hasanah, yakni sebesar 85,51%.

Pertumbuhan laba triwulan ketiga ini juga disumbang dari upaya mempertahankan efisiensi yang dilaksanakan di segenap bidang. Hal ini tampak dari komposisi BOPO yang relatif turun dari 91,60% pada September tahun 2015 menjadi 86,28 % pada September 2016.

Related

Ekonomi 6453822222258191387

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

Hubungi kami

Nama

Email *

Pesan *

item